Sunday, March 9, 2014
Friday, November 1, 2013
Bulan Muharram
Pembaca yang semoga senatiasa dirahmati Allah Ta’ala, sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru hijriyah. Dimana bulan pertama dalam kelender hijriyah adalah bulan Muharram. Allah Ta’ala telah menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia dan menjadikannya sebagai salah satu dari empat bulan haram (yang disucikan).Bulan Muharram, Bulan yang Dimuliakan
Para pembaca yang budiman, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan (yang telah ditetapkan) di
dalam kitab Allah sejak menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan
tersebut terdapat 4 bulan yang suci. Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan
(suci) tersebut.” (QS. At Taubah : 36)
haram (suci) tersebut adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sebagaimana yang disebutkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam (yang artinya), “Satu
tahun ada 12 bulan, diantaranya ada 4 bulan suci: 3 bulan secara
berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab
diantara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Diantara keempat bulan
Mengapa keempat bulan tersebut dinamakan bulan haram? Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah
dahulu. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan
maksiat lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya dikarenakan
mulianya bulan tersebut.” (Zaadul Maysir, Ibnul Jauziy)
Beberapa Amalan yang Dilakukan di Bulan Muharram
Para pembaca rahimakumullah, berikut akan kami bawakan beberapa amalan yang hendaknya dilakukan pada bulan Muharram.
1. Perbanyak Amalan Shalih dan Jauhi Maksiat
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang tafsir firman Allah Ta’ala dalam Surat At Taubah ayat 36: “…maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian…”;
Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut.
Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan
kemulian-kemuliannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut
lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang
lebih besar) dengan amalan-amalan shalih.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir)
Mengingat besarnya pahala yang diberikan
oleh Allah melebihi bulan selainnya, hendaknya kita perbanyak
amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini dengan
membaca Al Qur’an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.
Selain memperbanyak amalan ketaatan, tak lupa untuk berusaha menjauhi maksiat kepada Allah dikarenakan dosa pada bulan-bulan haram lebih besar dibanding dengan dosa-dosa selain bulan haram.
Qotadah rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”
2. Perbanyaklah Puasa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sebaik-baik
puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan
Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah
shalat malam.” (HR. Muslim)
Para salaf pun sampai-sampai sangat suka untuk melakukan amalan dengan berpuasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Lathaa-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab)
3. Puasa ‘Asyuro (Tanggal 10 Muharram)
Para pembaca yang dirahmati Allah, hari ‘Asyuro merupakan hari yang sangat dijaga keutamannya oleh Rasulullah, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari ‘Asyuro) dan bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk menjaga keutamaan hari ‘Asyuro adalah dengan berpuasa pada hari tersebut. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyuro, mereka mengatakan, “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah” (HR. Bukhari)
Rasulullah menyebutkan pahala bagi orang yang melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro, sebagaiamana riwayat dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyuro, kemudian beliau menjawab, “Puasa Asyuro menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat” (HR. Muslim)
4. Selisihi Orang Yahudi dengan Puasa Tasu’a (Tanggal 9 Muharram)
Setahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau berrtekad untuk tidak berpuasa hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram) saja, tetapi beliau menambahkan puasa pada hari sebelumnya yaitu puasa Tasu’a (tanggal 9 Muharram) dalam rangka menyelisihi puasanya orang Yahudi Ahli Kitab.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau mengatakan, Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyuro
dan menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh
orang-orang Yahudi dan Nasrani”. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasu’a, untuk menyelisihi Ahli kitab)”. Ibnu ‘Abbas berkata, “Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”
Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya
(tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena
menyerupai orang-orang Yahudi. Tapi ada ulama lain yang membolehkannya
meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa
sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram). (Asy Syarhul Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin)
5. Muhasabah dan Introspeksi Diri
Hari berganti dengan hari dan bulan pun
silih berganti dengan bulan. Tidak terasa pergantian tahun sudah kita
jumpai lagi, rasa-rasanya sangat cepat waktu telah berlalu. Semakin
bertambahnya waktu, maka semakin bertambah pula usia kita. Perlu kita
sadari, bertambahnya usia akan mendekatkan kita dengan kematian dan alam
akhirat.
Sebuah pertanyaan besar, “Semakin bertambah usia kita, apakah amal kita bertambah atau malah dosakah yang bertambah??!” Maka pertanyaan ini hendaknya kita jadikan alat untuk muhasabah dan introspeksi diri kita masing-masing. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu
pernah mengatakan, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika
matahari tenggelam, masa hidupku berkurang, namun amalanku tidak
bertambah.”
Wahai saudaraku, sudahkah kita
mempersiapkan bekal untuk menuju perjalanan yang panjang di akhirat
kelak dengan amalan-amalan shalih? Sudahkah kita siap untuk
mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah kita perbuat di
hadapan Allah kelak? Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri
hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat)…” (QS. Al Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Yaitu, hendaklah kalian menghitung-hitung diri kalian sebelum kalian di-hisab
(pada hari kiamat), dan perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan
berupa amal kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Rabb
kalian.”
Semoga Allah senantiasa memberikan kita
taufik untuk tetap teguh berada di atas jalan kebenaran-Nya, bersegera
untuk melakukan instrospeksi diri sebelum datang hari di-hisab-nya semua amalan, dan menjauhkan dari perbuatan maksiat yang bisa membuat noda hitam di hati kita. Wallahu Ta’ala a’lam.
Sumber: Buletin At Tauhid
Wednesday, May 8, 2013
Renungan
"Hitunglah
amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah"
Muhasabah (introspeksi
diri) dan istighfar adalah hal yang penting
dilakukan setiap muslim karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu
tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan
datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa
yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah tilawah al-Qur’an,
sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan?
Malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada
Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang
menikmati tayangan-tayangan sinetron, film dan sebagainya dari televisi?
Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang
muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir. Pergantian detik,hari,bulan, dan tahun bukan sekedar pergantian waktu, namun peringatan bagi
kita apa yang sudah kita lakukan, dan apa yang akan kita
perbuat esok. Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr: 18).
Mengharap pertolongan Allah, menuju kejayaan Islam
Mengharap
pertolongan Allah, menuju kejayaan Islam
Fitnah yang semakin
kuat, perbuatan bid’ah dan kesyirikan merajalela, musibah datang silih berganti, sertaketerbelakangan
umat dari segala aspek kehidupan, merupakan gambaran kondisi yang menimpa umat
di zaman ini.Kondisi tersebut merupakan efek dari jauhnya umat ini dari
tuntunan mereka. Tuntunan yang mengantarkan pada kejayaan di dunia dan keselamatan
di akhirat.
Kemunduran yang dialami umat islam saat ini
tidak terlepas dari kesalahan umat itu sendiri, Allah Subhanahu wa ta'ala
berfirman, artinya: “Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [Ali
Imran: 165]. Dan firmannya, artinya: “Dan apa saja musibah menimpa kamu maka
adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian
besar (dari kesalahan-kesalahan)” [Asy-Syura: 30].
Keistiqomahan terhadap al Qur’an dan Sunnah
Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam merupakan kunci kejayaan, kebahagiaan,
kebaikan, kelurusan, keselamatan, kepemimpinan, dan kepoloporan umat Islam. Bukti
yang mendukung hal ini terlihat jelas dalam peristiwa-peristiwa sejarah.
Lihatlah ketika umat islam dibawah kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu
‘anhu mampu meruntuhkan dua emperium besar
pada saat itu yaitu Persia dan Romawi, lembaran sejarahpun telah mencatat
bagaimana kesejahteraan umat di bawah kekhalifaan Umar bin Abdul Aziz, saksikan
pula bagaimana Sultan al Fatih meruntuhkan konstantinopel, sejarahpunmenjadi
saksi kejayaan umat islam disegala aspek kehidupan di Andalusia, serta
peristiwa heroid lain dari pendahulu umat ini. Keberhasilan itu dapat diraih
tidak lain karena mereka berpegang teguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
shallallahu 'alahi wa sallam.
Seandainya saja umat kita mau kembali dan
menghayati Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam
kemudian mengamalkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya, niscaya dengan izin
Allah kejayaan umat ini akan kembali. Kejayaan islam akan kembali jika Allah
telah memberikan pertolongan-Nya. Dalam al Qur’an dan As Sunnah telah
disebutkan beberapa syarat atau hal yang dapat mendatangkan pertolongan Allah
Subhanahu wa ta'ala, diantaranya:
Bertauhid, Iman, Amal Shaleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, Artinya: “Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh-sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka
agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
(keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Aku" [An-Nur : 55].
Menolong Agama Allah
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, artinya: “Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa” [Al-Hajj: 160].
Menolong agama Allah ialah:
-
Menegakkan syariat-Nya dan dengan
mengikuti petunjuk Nabi-Nya shallallahu 'alahi wa sallam, untuk mewujudkan
peribadatan hanya kepada Allah, menghidupkan sunnah dan memberantas bid’ah.
-
Memberikan loyalitas kepada ahlu
sunnah wal jam’ah, dan sebaliknya kepada ahli bid’ah.
-
Melaksanakan amal ma’ruf-nahi
mungkar serta jihad melawan musuh-musuh Allah.
-
Mentaati Allah dan Rasul-Nya;
menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya.
Orang yang demikian keadaannya, niscaya tidak
akan dapat dikalahkan, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, artinya: “Jika
Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu (tidak
memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain)
dari Allah sesudah itu ?" [Ali Imran : 160].
Sabar dan Taqwa
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan orang yang
bersabar dan bertaqwa untuk memberikan pertolongan, bantuan, kemenangan,
keberuntungan dan punahnya tipu daya musuh. Allah Subhanahu wa ta'ala
berfirman, artinya: “Ya (cukup), jika kamu
bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu
juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar
gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan
kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[Ali Imran: 125-126].
Dan firmannya, artinya: “Jika
kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak
mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa
yang mereka kerjakan” [Ali Imran: 120].
Nabi shallallahu 'alahi wa
sallam bersabda, artinya: “Ketahuilah bahwa jalan keluar disertai kesulitan,
bahwa kemenangan disertai kesabaran dan sesungguhnya bersama kesukaran terdapat
kemudahan” [HR. Ahmad].
Orang yang Teraniaya Mendapat Janji Pertolongan
dari Allah, Apalagi Jika Ia Seorang Mukmin yang Bertaqwa
Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan do’a orang yang terzalimi makbul
dan tidak ada penghalang yang menutupi do’a itu dari Allah. Allah Subhanahu wa
ta'ala berfirman, artinya: “Telah diizinkan
(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah
dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”.[Al Hajj: 39]. Dan firman-Nya, Artinya: “Demikianlah,
dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita
kemudian ia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” [Al Hajj: 60].
Terdapat
pula riwayat bahwa Allah pada hari kiamat akan mengqishas kambing yang
bertanduk karena menganiaya kambing yang tidak bertanduk [Hadits Riwayat
Tirmidzi], ini merupakan kesempurnaan keadilan Allah Subhanahu wa ta'ala.
Terhadap binatang saja demikian, apalagi terhadap suatu masyarakat yang
dikucilkan, diusir dari negerinya sendiri.
Mengikuti Agama Secara Benar
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa)
petunjuk (Al Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala
agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” [At-Taubah: 33].
Rasulullah
shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, artinya: “Sungguh-sungguh perkara
(Islam) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak
tersisa sebuah rumah tembok pun, tidak pula rumah ilalang pun kecuali akan
Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya; dengan kemulian orang mulia atau kehinaan
orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya (orang mulia
tersebut), dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina
tersebut” [Hadits Riwayat Ahmad].
Inilah
janji yang termuat dalam kitab Allah dan tertuang melalui lisan Rasulullah
shallallahu 'alahi wa sallam. Janji Allah Subhanahu wa ta'ala tidak mungkin
diingkari, sebab Allah tidak mengingkari janji.
Menghindari Kegentaran dan Perselisihan
Umat Islam tidak
mengalami kekalahan kecuali karena pertentangan dan perpecahan diantara mereka.
Seandainya mereka bersatu padu dalam kalimat tauhid, sama-sama berpegang teguh
pada tali Agama Allah, berjihad melawan musuh-musuhnya untuk menjunjung tinggi
kalimat Allah dan menegakkan tauhidullah serta memberantas habis kemusyrikan,
niscaya Allah menolongnya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu
dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [Al-Anfaal: 46].
Melakukan Persiapan untuk Perang (Moril dan
Materil)
Melakukan
Persiapan untuk Perang yaitu dengan melakukan upaya-upaya sesuai dengan Sunnah
Nabawiyah yang telah ditempuh oleh para nabi, padahal para Nabi adalah
orang-orang yang sangat jujur dan tawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Nabi
shallallahu 'alahi wa sallam pernah muncul dengan mengenakan dua buah baju
zirah dalam satu peperangan, beliau juga memakai pelindung kepala dalam
peperangan.
Demikian
pula para sahabatnya-pun radhiyallahu ‘anhum mengenakan baju zirah yang
menyelimuti seluruh tubuh. Dan ini tidak menghilangkan tawakkal kepada Allah
Subhanahu wa ta'ala. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, artinya: “Dan
siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan
pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan)” [Al-Anfaal: 60].
Kita memohon kepada
Allah Subhanahu wa ta'ala agar Dia memberikan taufiq kepada kita untuk
melakukan usaha-usaha ke arah kemenangan dan kejayaan Islam. Pada hari
kemenagan itulah kaum mukminin bergembira ria mendapat pertolongan Allah
Subhanahu wa ta'ala. Allahu ‘alam.
Thursday, April 11, 2013
KEAJAIBAN DI GAZA
Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para
mujahidin Palestina diakui sendiri oleh pasukan Israel. Menurut
penuturan pasukan kafir Israel, pasukan tersebut berseragam putih-putih.
Suatu hari di penghujung Januari
2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal
Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh
sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga
diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki
diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin AlAan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut,
setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam
memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan
dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk
Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami,
juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya,
sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya
ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang
itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih
bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk
kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat
seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban
satu-satunya yang ia miliki.
sumber: VOA-Islam
Saturday, March 16, 2013
Saturday, January 12, 2013
BIRRUL WALIDAIN (BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA)
BIRRUL WALIDAIN
Di dalam al Qur’an
Surah Al-Isra ayat 23-24, Allah memerintahkan manusia untuk bertauhid
kepada-Nya, setelah perintah bertauhid kemudian diikuti dengan perintah
berbakti kepada kedua orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwa Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan amalan yang sangat penting dalam islam.
"Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al-Isra : 23-24]
"Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al-Isra : 23-24]
Perintah
untuk berbakti kepada kedua orang tua mungkin kurang dipahami oleh beberapa
orang sehingga sering kita jumpai di masyarakat anak yang durhaka kepada kedua
orang tuanya, tidak menghargai orang tua, melecehkan orang tua, bahkan ada yang
mencaci maki dan memukul orang tuanya, na'udzubillah min dzalik. Seorang anak jika
menyadari bagaimana beratnya perjuangan orang tuanya dalam mengandung,
melahirkan, mengurus, memberikan nafkah, mendidik dan membesarkannya sampai dia
dewasa maka sepantasnyalah untuk taat dan memenuhi hak orang tuanya, bukan
justru sebaliknya.
DIANTARA BENTUK-BENTUK BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG
TUA
Tidak
Membentak Kedua Orang Tua
"Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada
manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat
baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari
keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan
kepada keduanya 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah
kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya
dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb-ku sayangilah
keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al-Isra:
23-24]
Memberi
Nafkah Kepada Kedua Orang Tua
Mereka bertanya kepadamu tentang apa
yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan
hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa
saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. [Al Baqarah: 215]
Mendo'akan Orang Tua
"Robbirhamhuma
kamaa rabbayaani shagiiro" (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil). [al Israa’: 24]. Jika orang tua kita belum mengikuti
dakwah yang haq atau masih melakukan kesyirikan serta bid’ah, maka mari kita
do’akan mereka terutama pada waktu-waktu yang baik untuk berdo’a (misalnya pada
saat berpuasa, hari jum’at) semoga Allah menunjuki mereka jalan yang haq.
DIANTARA BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA SETELAH MEREKA
MENINGGAL
Mendo’akannya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, artinya:
“Apabila seorang hamba meninggal dunia,
maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau
ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdo’a untuknya” [HR. Muslim]
Bersedekah
Untuknya
Dari
Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bahwasanya
ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak, dan saya menyangka jika
seandainya dia berbicara (berwasiat), niscaya dia akan bersedekah. Bolehkah aku
bersedekah untuknya? Beliau menjawab, Ya, bersedekahlah untuknya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Membayarkan Hutangnya
Melaksanakan
Nadzarnya
Dari
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya
Sa’ad binUbadah Radhiyallahu ‘anhu pernah meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam, dia bertanya, ‘sesungguhnya ibuku meninggal dunia
sementara dia memiliki kewajiban nadzar.’ Rasulullah bersabda, ‘tunaikanlah
nadzar itu untuknya’.”. [HR. Bukhari]
Mengqadha’
Puasanya
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, artinya:
“Barangsiapa yang meninggal dunia
sementara dia memiliki kewajiban berpuasa, maka hendaknya walinya menggantikan
puasanya.” [HR. Bukhari]
Berhaji Untuknya
Dari
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, “Bahwa
seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya
bertanya, ‘sesungguhnya ibuku pernah bernadzar untuk menunaikan haji, namun dia
belum sempat berhaji hingga dia meninggal dunia. Bolehkah aku berhaji
untuknya?’ Beliau menjawab, ‘Ya, tunaikanlah haji untuknya? Tunaikanlah hutang
kepada Allah, sesungguhnya hak Allah lebih berhak untuk ditunaikan’.” [HR. Bukhari]
KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Sebab
Dimasukkannya Seseorang ke Dalam Syurga
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Celakalah
dia, celakalah dia, kemudian celakalah dia. Ditanyakan (kepada Rasulullah),
“Siapa, wahai Rasulullah?” Belia menjawab, “siapa saja yang mendapati orang
tuanya pada saat lanjut usia, salah satunya atau keduanya, kemudian dia tidak
bisa masuk surga (karena tidak berbakti kepada keduanya).” [HR. Muslim]
Diluaskan
Rizki dan Dipanjangkan Umur
Dari anas bin Malik
Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya
dan dipanjangkan
umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim. [HR. Bukhari]
Ibnu Hajar
Rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa makna dilapangkan rizkinya
adalah keberkahan padanya, sedangkan makna dipanjangkan umurnya adalah adanya
kekuatan di dalam tubuh. [Fath al-Bari]
Dalam
ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang
harus didahulukan adalah
kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain.
Ridla
Allah Tergantung Kepada Keridlaan Orang Tua
Dari
Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma dikatakan bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ridla
Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada
kemurkaan orang tua" [HR.
Bukhari]
Diantara
Amal
yang Paling Utama
Dari
Abdullah bin Mas'ud katanya, "Aku
bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang amal-amal yang
paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal
waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan
Allah" [HR. Bukhari
dan Muslim]
Berbakti kepada orang tua merupakan
amalan yang sangat mulia, namun perlu diperhatikan bahwa bakti kepada orang tua
hanyalah dalam hal yang ma’ruf, sebagaimana firman Allah, artinya: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat)
kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempesekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka
janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadaKu-lah kembalimu, lalu Aku
kabarkan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.” [Al-‘Ankabut: 8]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam, artinya: “Sesungguhnya
ketaatan itu hanya ada pada yang ma’ruf.”[HR. Bukhari]. Demikian juga sabda
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, artinya: “Tidak
ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka melakukan kemaksiatan kepada sang
Khaliq.” [HR. Ahmad].
Allahu ta’ala ‘alam.
Subscribe to:
Posts (Atom)

